Salut untuk Petani Indonesia 2

Sabtu, 29 Okt '11 12:02

Kita-kita yang makan nasi ini kadang tidak menelaah sama sekali bagaimana nasi itu sampai di meja kita. Maklum, tinggal makan. Mana kita memahami betapa petani berpanas-panas di tengah terik matahari, menanam benih demi benih, merawatnya sekitar 3 bulan, memanennya, dan kemudian dengan distribusi yang cukup panjang kita membeli dan mengkonsumsinya dengan mudah.

Tulisan ini sekedar sharing saja. Siapa tahu bisa menambah pengetahuan kita. Boleh dikata sekedar merayakan kekaguman Mlandhing atas semangat petani kita di akar rumput dalam menyediakan 'pakan' kita, sekaligus memperbaiki taraf hidupnya.

Begini, mempunyai pekerjaan yang memungkinkan jalan-jalan menegok sudut daerah lain, sungguh menguntungkan. Dalam suatu project pembuatan iklan layanan masyarakat, Mlandhing sempat beberapa kali mengunjungi Desa Cibatu. Ini sebuah desa di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat yang dalam penilaian Mlandhing sangat istimewa. Desa ini adalah semacam laboratorium alam pemuliaan tanaman padi. Maksudnya, kalau penelitian padi-padian dilakukan di tingkat laboratorium, maka implementasinya diterapkan, salah satunya ya di desa ini.

Coba perhatikan dulu apa yang berbeda dari hamparan sawah di atas? Itu adalah cara 'baru' bertanam padi. Perhatikan tanda petik pada kata baru - karena sebenarnya teknologi ini sudah dikenal cukup lama tapi penerapan teknologi ini ternyata cukup rendah. Rendah karena para petani sudah terlalu terbiasa dengan cara lama, yaitu menanam padi dengan jarak sama (sistem tegel). Mengubah kebiasaan tanam ini lah yang sekarang menjadi tantangan.

Tapi petani di Desa Cibatu, Kecamatan Cikembar, Sukabumi ini menyadari betul betapa dengan mengubah sikap dan pola kerja, maka produksi padi dapat digenjot.  Pola tanam ini disebut JAJAR  LEGOWO 2:1. Dimana padi ditanam 2 deret dan kemudian diberi spasi kosong 1 deret. Secara logika sebenarnya pengosongan satu deret ini akan mengurangi jumlah produksi, iya kan? Tapi nyatanya justru tidak. Dengan teknologi sederhana, produksi padi di sawah dengan sistem ini jutru meningkat! Seberapa sih peningkatan produksi dengan cara ini? Jawabannya sangat signifikan, yaitu 30%. Padahal, jumlah bibit dan pemupukan lebih rendah, dan pengairan lebih sedikit.

Rupanya jarak tanam ini seperti memberikan 'nafas' bagi tanaman untuk berkembang lebih pesat. Ketika Mlandhing cermati, cara tanam lama dalam satu kali colok/tanam ditanam 6-10 bibit. Pada cara jajar legowo, satu kali colok hanya 1-3 tanaman saja, tapi, ada tapinya, yaitu kedalaman tanam tak terlalu dalam sebagaimana cara lama. Dengan 'ruang' yang cukup inilah tanaman padi jadi berkembang biak dengan baik dan populasi tanamannya meningkat secara signifikan. Kalau sudah begitu, otomatis tangkai padi juga bertambah banyak. Jadi panenan pasti lebih melimpah. Tidak mengherankan kalau teknik tanam hasil temuan Balitbang Kementerian Pertanian ini sekarang diadopsi di seluruh desa Cibatu. Secara, petani memang harus melihat dulu bukti perbedaan hasil tanam cara lama dan cara baru. Dari hasil pembuktian di desa ini, kini BPTP Jawa Barat gencar mensosialisasikannya ke wilayah lain.

Saat Mlandhing hunting lokasi pertengahan tahun ini, ratusan hektar sawah di desa Cibatu memang menghampar sehat. Memandangnya saja hati jadi adem, tenang, dan meneduhkan hati.

Aih, kok jadi melow ya... :)

Ya sudah, sekali lagi Mlandhing ini hanya ingin mengagumi, betapa tanpa perlu menonjolkan diri, para petani padi sebenarnya adalah pahlawan kita. Mlandhing hanya bisa berdoa semoga mereka tetap semangat dan sehat. Salut untuk petani Indonesia.


Tag: sawah, petani, padi, salut

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Komentar:

didi 0 0
Sebenernya negara mah udah kaya..pertanian luas..peternakan bisa semua..laut kaya..perkebunan rempah2 komplit..tapi kenapa semua harus impor ya..hiks2..ikut sedih melihat nasib para petani yang harus bersaing dengan produk impor..
mlandhing 0 0
didi: judulnya tuh pada dodol... mikir perutnya sendiri... : (

Silahkan login untuk memberikan pendapat