Semurku, Dikudeta 'Lagi'? 14

Sabtu, 22 Okt '11 08:33

Aih sedih hati ini, terluka, merana, dan serasa teriris pisau tajam secara perlahan... *asli lebay..* :)

Bagaimana tidak sedih, bila ternyata salah satu kekayaan kuliner kita, yaitu SEMUR, terancam juga diakui sebagai kuliner otentik negeri jiran. Kali ini, parahnya, tanpa kita terusik dan merasa kehilangan..!

Harus diakui, kedekatan wilayah dan budaya antara negeri kita Indonesia dan Malaysia sangatlah bersisian, sehingga tak bisa dihindari persebaran masakan ini juga mencapai wilayah tersebut. Tapi coba perhatikan, beberapa buku masakan telah menyebutkan bahwa Semur adalah masakan otentik Malaysia! Tengok saja buku "Flavors of Malaysia: A Journey trough Timem Taste, and Traditions" karya Susheela Raghavan. Buku itu mencantumkan Beef Semur.
 Atau di buku lain ada Semur Ati yang disebut sebagai hidangan Malaysia di buku "The Complete Asian Cookbook" karya Charmaine Solomon.

Kurang apalagi? Masih butuh bukti bahwa Semur secara perlahan bisa terkudeta secara budaya? Lha itu, di banyak negara seperti Australia, Eropa, Afrika, dll. restoran-restoran yang menyatakan diri otentik Malaysia juga menyajikan menu Semur ini.

Sementara, kita sebagai 'pemilik pertama' Semur diam saja. Banyak buku kita memang sudah mencantumkan semur dalam tulisannya, tapi... ini tapi lho ya... tidak ada penulis manca negara satupun yang mereview dan menuliskan bahwa Semur adalah hidangan Indonesia. (atau jangan-jangan aku yang terlewat tidak mengetahuinya ya?). Parahnya, restoran kita banyak yang 'meniadakan' hidangan ini. Katakanlah menyajikan, pasti dengan modifikasi nama yang semakin menjauhkan image Semur. Lengkap sudah.

Sebenarnya, apa yang terjadi?

Apa yang membuat hati kita tidak tergerak dengan kondisi ini? Apa karena ini sekedar resep, yang tidak begitu penting? Atau karena memang kebanyakan dari kita belum tahu, bahwa sejarah semur ini sangat lekat dengan sejarah, budaya, dan tak terpisahkan dari jati diri bangsa? Padahal sangat jelas, kuliner adalah salah satu unsur penting yang tak terpisahkan dari suatu sistem kebudayaan. Kenapa? Karena ia menggambarkan identitas lokal kolektif tertentu yang mencirikan lingkungan, kebiasaan, representasi simbol sebuah wilayah. Kuliner bahkan bisa menunjukkan latar belakang sosial, ekonomi dan golongan.

Tapi, nanti dulu, Mlandhing ini kok ngomong panjang lebar, protes sana-sini soal Semur, seolah semua sudah paham apa obyek bicara dari tulisan ini. Maaf, maaf, bisa jadi ada diantara kita belum tahu Semur itu apa.

Begini...

Semur ini adalah hidangan dengan citarasa sejarah yang jauh dimulai sejak dulu kala. Bahkan sebelum masa penjajahan di Nusantara. Semur adalah hidangan yang lahir dari perpaduan berbagai pengaruh budaya sebelum akhirnya menjadi hidangan khas Indonesia. Diawali dari tradisi mengolah daging dan ikan, serta sayuran yang sudah dikenal sejak masa berburu dan meramu, berpadu dengan tradisi India dan Timur Tengah yang memperkenalkan penggunaan rempah-rempah dan kemudian diperkaya dengan tradisi peranakan Cina lewat penggunaan kecap. Hidangan ini lalu dikembangkan di dalam dapur Indis, yaitu kaum peranakan Eropa – yang menggunakan kecap manis, sebuah karya kuliner yang mutlak hanya dimiliki Indonesia sebagai identitas kuncinya. (catat ini yaaa...)

Nah, secara budaya dan tradisi, hidangan Semur ini telah menembus berbagai budaya lokal di hampir seluruh penjuru Nusantara. Di berbagai daerah, bahan, citarasa, cara pengolahan dan penyajian Semur beradaptasi dengan karakteristik penduduk setempat yang kemudian melebur sebagai bagian dari budaya dan tradisi mereka.

Lihat saja, di Samarinda, menu nasi kuning untuk sarapan sudah sangat membudaya, nasi kuning ini biasanya dipadankan dengan Semur Samarinda, soun, serundeng kelapa dan ayam masak merah (ayam masak Habang) yang akhirnya menjadi menu sarapan khas Samarinda.

Semur Palembang atau Malbi memiliki keunikan yang terletak pada penggunaan bumbu yang kaya dan pekat. Malbi biasa disajikan dengan nasi minyak sebagai padanannya, dan paling sering dihidangkan pada acara adat yang istimewa, seperti saat perayaan lebaran dan resepsi pernikahan asli Palembang

Di budaya Betawi, penyajian hidangan ini menyolok pada saat lebaran, dikenal dengan Semur Andilan Betawi. Biasanya dihidangkan dengan ketupat dan sayur godhog, dan menjadi budaya wajib saat lebaran Betawi. (Kapan-kapan kita bahas deh yang prosesi Semur Andilan Betawi ini, soalnya menarik sekali filosofi di baliknya.)

Nah, kalo soal resep nanti Mlandhing postingkan secara terpisah.

Back to cerocosan Mlandhing dulu soal cara kita menghargai kuliner Semur ini ya... Mosok sih kita akan diam saja dengan gerusan budaya dan membiarkan Semur menjadi milik bangsa lain tanpa 'perlawanan' sama sekali. Atau, jangan-jangan kita ini memang bangsa bebal yang hanya menjadikan hidangan sebagai 'pelacur lidah' - nikmat dibayar, nggak enak ya lupakan?

Ayo, nyatakan pendapatmu!

(gambar dipinjam dari sini)


Tag: Malaysia, semur, kudeta, budaya, Undonesia

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

didi 0 0
pendapatku..simple aja Mbak..karena selama ini pemerintah gak pernah ngganggap, bahwa kuliner pun bisa mengangkat nama bangsa dan membuat jadi terkenal....kalau negara lain kan mereka sangat gencar yamemperkenalkan makanan aslinya untuk menunjang pariwisata..contoh nyata..Korea..Thailand..bahkan Malaysia sendiri , walupun senengnya njiplak, tapi mereka kan lebih gencar ya promo kulinernya..^_^..tapi kok gak kreatif ya Malaysia itu..ngomong2 makanan yang bener2 asli Malaysia itu apa ya..kok malah jarang kedengeran ya..yang sering denger malah makanan asli kita yang di cap sebagai makanan khas mereka..
mlandhing 0 0
didi: ngomongun pemerintah mah gak ada habisnya kaleee... gimana mau mikirin promo kuliner, wong malah sibuk main sinetron dengan banyak judul: resuffle, sok peduli korupsi, cara mudah mengakali rakyat, dll, dll. : D

soal makanan malaysia, sebenarnya sih gak tertutup kemungkinan memang ada hidangan yang sama... cuma, ketika mereka bisa on right track campaign, kitanya memble... sedih.
Sabai 0 0
Wah, kalo nunggu pemerintah bertindak sih sama aja kayak nunggu gajah bertelur.
Gini aja, ajak para 'tokoh' kuliner kita yg peduli soal ini utk nulis posting berbahasa inggris di blog dan media cetak lain. Eh, mak Nina kan punya banyak teman wartawan?

Minta tolong teman-teman wartawan mengupas soal kekayaan kuliner kita, tapi tulisannya dalam bahasa Inggris gitu aja. Atau cari teman2 utk bantu nulis dlm bahasa inggris, aku jg mau bantuin nulis bila diperlukan, dan minta tolong kenalan mbak utk menerbitkan di media mereka.
mlandhing 0 0
Sabai: uni, untuk gerakan ke para jurnalis sudah dimulai ini sama teman-teman dari Kecap Bango...

mereka bahkan juga mengadakan kompetisi untuk resep semur ini, dan terbuka untuk umum lho... siapapun boleh ikut... hadiahnya juga lumayan... sayangnya lomba sudah akan berakhir 31 oktober 2011 ini... coba baca di sini deh:

http://1001reseps…resep-semur/

cuma, ya, aku paham idemu untuk campaign dengan bahasa inggris ini... supaya nggak jago kandang saja ya... setuju!

perlu keroyokan untuk kerjaan ini.
didi 0 0
Coba film2 kita juga bisa ikut ngangkat kuliner khas Indonesia ya..kayak film2 dan drama Korea gitu..yang selalu ada kuliner khas seperti kue beras..dll..padahal kayaknya lebih kaya Indonesia ya soal kuliner.....mimpi lagi dech.........
didi 0 0
mlandhing: Buka blognya lomba semur kecap Bango..wah ada foto semur soun ku..hihi.. resepnya juga respku kayaknya yang pernah ku tulis di sini..cuma di utak atik dikit..
( apal banget sama piringku soalnya..wkwkwkwk..)
mlandhing 0 0
didi: atau gimana ya andaikata... ini andaikata... andaikata pemerintah kita juga mensponsori berdirinya resto-resto indonesia di luarnegeri... tentu dengan resep yang otentik indonesia, tapi dengan tampilan yang disesuaikan dengan selera pasar sana... setuju nggak?
mlandhing 0 0
didi: hehehe, ingetin admin-nya untuk mencantumkan asal-usul gambar gih... : )
didi 0 0
Wis luweh..kata orang Jowo Mbak..amal..berarti foto kita apik tho..kalau di pajang di blog lain.wkwkwk..geer..padahal masih amatiran fotonya..sering banget kalau blog walking nemu foto kita di sini ya di pasang di blog lain..
mlandhing 0 0
didi: kalau ikhlas sih biasanya jadi amalan lah ya... cuma kan etikanya tetap mencantumkan sumber... hehehe

eh, ayo ikutan lomba... masih beberapa hari nih... : )
didi 0 0
Ayukkkkkk..semangat..cuma kameraku masih opname di servis center Olympus di Jakarta..boleh pakai Hp gak ya fotonya..( gak PD..hehe )
mlandhing 0 0
didi: kamera kalo sudsah rusak mending diikhlaskan... kalo diservis biayanya muahaal... mending beli baru, sekalian bisa dapat produk yang lebih update... serius... : )

pakai HP foto boleh kali ya... kan sekarang juga sudah banyak hp foto dengan pixel gedhe... ayo... ayoo... : )
didi 0 0
Iya sich Mbak..cuma sayang aja ma Olympusku ini..belinya belum lama..4 jt an je..kok gak kenapa2 error gak bisa di pakai..hiks..hiks..paling ngembat BB suami dulu..kalau aku pakai Android..pixelnya gede..tapi kok buat foto makanan gak ok ya..( kurang canggih aja kali ya motonya..hihi..)
mlandhing 0 0
didi: selamat manyun dulu deh... pakai BB aja gpp dah, yang penting ikutan kompetisi... lihat saja, resepku sudah aku lansir... aku ikutkan kompetisi tuh.. : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat