Mahal Belum Tentu Enak 2

Rabu, 12 Okt '11 08:12

Saat pindah ke dekat radio dalam belum lama ini, yang terbersit di otak Mlandhing ini adalah keinginan untuk icip-icip di tempat makan yang banyak bertebaran di kawasan ini. Tarik saja dari Jl Ahmad Dahlan hingga ujung radio Dalam, ada saja warung atau resto menjajakan aneka makanan, dari burger hingga surabi bandung, dari steak sampai bubur, dari yang bentuknya warung kaki lima hingga cafe dan bahkan resto fine dinning. semua ada. Menjanjikan. Pilih saja.

Herannya, kawasan Radio Dalam ini dikenal dinamis. Banyak resto atau warung kaki lima yang  buka tutup. Bisa jadi akibat ketatnya persaingan dagang. Atau bila tidak, ditengarai mereka tak cukup bertahan akibat kurangnya peminat. Biasa lah, usaha kuliner macam ini memang gampang-gampang susah. Enaknya rasa makanan yang ditawarkan jelas merupakan keharusan, kalau makanan tidak sedap, jangan harap pembeli kembali lagi.

Selain rasa, harga juga jadi penentu apakah si calon pembeli akan membeli atau tidak, akan repeat order atau tidak. Tak jarang, meski mahal, tapi karena rasanya OKE punya, ya pembeli kembali-kembali saja.

Cuma, bisa dibayangin nggak, kalau makanan yang ada sudah mahal tapi rasanya nggak kemana-mana? Ini kejadian beberapa waktu lalu saat Mlandhing jalan sama bontot (hehehe, siapa lagi).


Di Jl Radio Dalam ada resto dimsum yang buka malam hari saja. Lokasinya sih dekat Alfa Midi. Sejak lama Mlandhing melirik resto ini, cuma mau mampir kok gak kesampaian terus.  Padahal, lampion-lampion merahnya menarik hati. Suasananya juga lumayan buat nongkrong. Jadilah kami berdua masuk dan memesan. Buku mrenunya lumayan lengkap. Aneka dimsum sampai sushi ada. Kami memesan Hakau Udang dan Siomay, dimsum standar yang selalu ada bila sebuah resto menjajakan dimsum. Ini cara paling pas untuk membandingkan kelezatan rasanya dibanding resto dimsum lain. Selain itu kami juga memesan sup jagung kepiting, dan air kemasan 1 botol kecil. Hm, harganya lumayan tinggi. Total hampir 90 ribu. Maklum, seporsi standar dimsum sekitar 20.000an ribu gitu deh. Sup semangkuk kecil 30.000an. Sebotol kecil air kemasan dihargai 12.500. Harga hotel berbintang nih, pikir Mlandhing. Nggak apa-apa, semoga rasanya sebanding lah.

Tapi harapan tinggal harapan. Saat semua pesanan dihidangkan, kami lumayan kecewa. Hakau dan siomay yang semestinya gurih, nyaris tawar. Rasanya semacam frozenfood yang sudah kehilangan kesegarannya. Udang di hakau yang semestinya terasa, nggak muncul sama sekali. Kelembutannya juga bablas entah kemana. Hal yang sama juga terasa di siomay. Sampai nggak jelas ini siomay udang atau ayam karena rasanya memang sudah tidak terdeteksi. Padahal lidah Mlandhing  biasanya peka soal ingredient begini.

Sup jagung kepiting juga tidak istimewa. Si bontot sampai nanya, "ini kepitingnya yang mana, kok nggak ada?" (hadhuh, lidah bontot sudah ketularan scanning rasa :D)

So, dari semua pesanan, rasa yang paling tepat di tempatnya sesuai harapan adalah si air kemasan itu saja, yang benar-benar terasa seperti air putih. sayangnya harganya jauh lebih mahal, yaitu 12.500/botol kecil. Sedih deh.


Tag: jajan, makan, resto, icip, radio dalam

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Komentar:

didi 0 0
Wkwkwk..air kemasan Agua gitu maksudnya Mba..bukannya emang rasanya air putih..hihi....kali2 udah di fozen itu hakau dan siomaynya..sekarang kan banyak pabrik2 yang produksi frozen2 food siap saji gt..jadi gak perlu ribet kalau jualan dimsum..pdhl pengennya kita makan di resto itu yang fresh ya..klu cuma frozen food di rumah juga bisa.....
mlandhing 0 0
didi: lha kalo frozenfood ya harganya harusnya gak semahal itu juga kali... gak worthed banget deh pokoknya... *masih manyun*

Silahkan login untuk memberikan pendapat