Tradisi Hidangan Simbol Kebersamaan 6

Sabtu, 6 Feb '10 10:51

Kalau Anda datang ke Palembang Darussallam, ada sebuah tradisi makan bersama yang merupakan warisan dari leluhur masyarakat Palembang dari etnis Arab. Tradisi ini disebut Hidangan atau Berhidang. Bagi sebagian masyarakat di Indonesia tradisi ini tidak lah begitu asing tapi di Palembang, tradisi ini masih memegang peran yang sangat kuat. Mengapa? Karena tradisi Berhidang ini merupakan salah satu tradisi yang diwariskan dengan tujuan sebagai pemersatu masyarakat. Simbol pemersatu itu langsung tampak disaat tata cara Berhidang ini disajikan. Penyajian Berhidang ini mirip dengan cara makan masyarakat timur tengah tapi di Palembang, tradisi Berhidang sering ditemui pada saat ada acara-acara ritual keagamaan dan aka nikah.

Sajian Berhidang adalah salah satu ciri khas yang bisa Anda temui di kota Pempek ini. Biasanya setelah acara usai maka dilanjutkan dengan makan bersama dengan para tamu. Para tamu akan segera berkumpul dalam satu kelompok yang biasanya berjumlah antara 4-8 orang, melingkar dan saling berhadapan dimana ditengah mereka sudah diletakan alas / taplak meja. Tidak lama setelah itu, akan segera menghampiri panitia acara yang akan membawa air dalam ceret berserta penampung air. Mereka akan segera melayani para tamu untuk mencuci tangan dan menyediakan lap tangan. Setelah para petugas tersebut menghantarkan air cuci tangan, tak lama berselang para petugas yang lain membawa air minum yang langsung dibagikan ke setiap kelompok hidangan. Setelah petugas yang membawa air minum maka petugas yang lain membawakan nasi, lauk pauk dan pencuci mulut yang biasanya buah-buahan seperti pisang, semangka dan jeruk.

Setelah semuanya sudah terhidang, lauk pauk seperti: Ayam opor, ayam kecap, malbi, sayur buncis, sambal nanas dan acar dituang sekaligus diatas nasi minyak bertabur bawang goreng yang diwadahi dengan piring kayu berbentuk nampan bundar lalu dicampur secara merata. Untuk memulai acara makan bersama ini biasanya diawali oleh salah seorang tamu yang ada ditengah kelompok yang dianggap paling tua yang kemudian diikuti oleh para tamu yang lain. Cara makannya pun tidak menggunakan piring yang dibagikan, walapun ada juga yang menggunakan piring namun biasanya para tamu makan dalam piring besar yang sama yang berbentuk nampan bundar tadi. Lauk pauk pun secara demokratis dibagi secara merata dan diletakkan persis ditempat masing-masing tamu mengambil nasi diatas piring tersebut.

Bagi yang belum terbiasa dengan cara makan seperti ini, mungkin agak merasa sedikit risih karena belum pernah makan bersama dengan 4-8 orang dengan piring yang sama dan dengan jumlah lauk pauk yang sama. Dan yang luar biasa lagi, kita akan bisa melihat cara dan gaya orang lain makan. Pengalaman saya pribadi yang membuat saya kagum adalah nampaknya jumlah nasi yang kita makan itu sedikit tapi setelah selesai makan begitu terasa kenyang. Saya tidak tahu apa pengaruhnya tapi yang pasti saya rasakan adalah semangat kebersamaan itulah yang membuat berkah cara makan seperti ini.

Setelah makan, para tamu dapat mencuci tangan dimangkuk yang berisi air yang terntunya dipakai bersama-sama dengan tamu yang lain lalu untuk mengeringkannya dengan mengelapkannya dengan taplak meja yang dijadikan alas hidangan tadi. Luar biasa unik dan menarik. Lalu, bagaimana jika Anda ingin merasakan cara makan yang luar biasa unik ini? Mudah, Anda tinggal meminta rekomendasi siapa dan dimana hajatan orang-orang etnis arab dan Palembang keturunan arab  diselenggarakan pada saat hari Anda berkunjung. Saya pastikan Anda akan mendapatkan pengalaman berwisata kuliner yang tak akan terlupakan seumur hidup Anda. Selamat mencoba....


Tag: Berhidang, Tradisi Makan Bersama

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

mlandhing 0 0
waaaa... lha kalau kita tidak diundang dalam perhelatan itu, apa iya kita boleh langsung datang dan minta makan?

idih deh... : D
Wahyu Budiyono 0 0
mlandhing: Justru itu bedanya dengan undangan modern, mbak... Ambil contoh: Kalau ada selamatan peresmian Masjid / Renovasi Masjid yang ada di seberang ulu seperti yang ada digambar, malah kalau kita menolak itu dianggap menghina. Dan makan Behidang ini adalah tradisi yang tujuannya mencari dan mempererat persaudaraan, begitu : D
mlandhing 0 0
Wahyu Budiyono: oh gitu ya... kalau gitu, jadi backpacker di palembang gak bakalan kelaparan ya... kan asal ada perhelatan, kita bebas mampir... : D
Wahyu Budiyono 0 0
mlandhing: Bener.. Kayak kemaren Blogger Ausy Anthony Bianco dateng ke Palembang, sejahtera dia... : p
mlandhing 0 0
Wahyu Budiyono: hehehe... segitunya... tapi iya sih, dengan ngeblog banyak teman dimana-mana... at least bisa numpang tidur dan gak keluar duit hotel... : )
Wahyu Budiyono 0 0
mlandhing: Malah dapet duit yak : p

Silahkan login untuk memberikan pendapat