Tour de Pempek Van Djokdja pt. one 6
Selasa, 26 Jan '10 14:04
Hari Minggu 24 Januari, kami berlima (saya, Herman, Choro, Alle, Pangsit) mengadakan Tour de Pempek van Djokdja alias jalan jajan icip-icip warung pempek yang ada di Jogja. Tujuannya tentu saja untuk membuktikan mana warung pempek paling the best, paling enak, paling maknyos di seantero Jogja. Memang pempek bukan makanan asli Jogja, lebih tepatnya asli Palembang, jadi jangan membandingkan pempek van Jogja ini dengan pempek asli Palembang sono yah.
Tujuan pertama kami adalah warung pempek Mang Pari 19 ilir di jl. Kaliurang (dari dulu saya penasaran apa arti ilir ini, apakah semacam ‘way’ di Lampung). Warung ini adalah cabang yang terletak di jl. Taman Siswa. Cabang utamanya di Tamsis, rame sangadh, sedangkan di Jakal ini agak sepi. Kami memesan kapal selam, pempek kulit, dan tekwan untuk pembanding. Alasannya, karena tiga jenis menu pempek tersebut adalah menu yang standar ada di setiap warung pempek (terutama kapal selam dan kulit, sedangkan tekwan tidak semua warung menyediakan). Pempek adaan, lenjer, dsb sendiri adalah variasi lain pempek kapal selam minus telur tapi bentuknya berbeda.
Sementara menunggu pesanan kami siap, kami mencicipi kudapan tradisional yang disediakan di meja. Ada agar-agar dan srikaya. Agar-agarnya lumayan, mengingatkan dengan agar-agar rumahan, apalagi yang rasa gula jawa. Srikayanya juga tidak mengecewakan, manis legit dan samar terasa telurnya tapi tidak amis dan lembut di lidah.
Tak berapa lama, datanglah pesanan kami. Setelah mencicipi, berikut kesimpulan saya tentang pempek Mang Pari. Tidak ada yang istimewa. Saya pernah mencicipi pempek yang lebih mengecewakan, jadi menurut saya, pempek Mang Pari ini bisa dikategorikan biasa saja. Kapal selamnya tidak begitu terasa ikannya. Untuk pempek kulit terasa aroma ikannya tapi di mulut terasa agak amis. Selain itu rasa tepungnya masih kuat, di lidah kurang ‘smooth’. Kemripik pun tidak, cenderung agak keras.
Kuah cukanya sendiri, terlalu manis bagi saya. Memang asam, cukup pekat, dan sekali lagi terlalu manis.
Tekwannya sendiri mengecewakan. Kuahnya kurang nendang. Selain itu isinya juga kurang komplet, cuma ada bihun, baso ikan/pempek (saya sungguh tidak tahu, apa sebutannya, karena rasa ikannya nanggung, lebih mirip seperti pempek tapi direbus). Tidak ada jamur kuping, sedap malam, dan irisan bengkoang.
Kesimpulannya, pempek Mang Pari mendapat dua bintang dari lima. Apalagi dengan harganya yang lumayan, sekitar 8ribu-10ribu, sementara ada warung pempek lain yang lebih murah dengan kualitas yang bisa disandingkan dengan pempek Mang Pari.
Warung pempek yang kedua adalah Pempek 26. Warung ini dari sajian menunya agak kurang meyakinkan bagi saya, karena kok ada menu soto dan nasi goreng segala. Yang membedakan dan menjadi ciri khas Pempek 26 adalah, mereka menyajikan pempek dengan topping (ada toppingayam dan cumi). Kami memesan kapal selam topping ayam dan tekwan. Harganya lumayan, pempek biasa tanpa topping 8ribu, dengan topping ayam 10ribu, dan topping cumi 12ribu.
Patut dicatat, bahwa tampilan pempek di warung ini berbeda. Kapal selam yang ada dihadapan kami lebih mirip sepertii nugget , malah ada yang bilang mirip chicken katsu. Toppingnya sendiri adalah suwiran ayam (goreng?) yang ditaburkan di atas pempek. Kalau topping cumi, maka penyajianya adalah cumi goreng tepung yang ditaburkan di atas pempek. Walau penampilannya cukup berbeda (dan mungkin jadi meragukan bagi para penggila pempek) tapi setelah diicip, rasanya ‘cukup masuk’. Kenyalnya memang berbeda dengan pempek Mang Pari, Pempek 26 lebih kenyal (mungkin terbuat dengan campuran tepung sagu?). Rasa ikannya lebih teras dibanding pempek Mang Pari.
Kuah cukanya lebih light dibanding kuah cuka Mang Pari, dengan rasa asam yang menyegarkan, tapi masih terlalu manis bagi lidah saya. Sekedar catatan, Pempek 26 ini selain ingin tampil beda dengan topping, penyajiannya pun berbeda dengan warung pempek kebanyakan. Kuahnya tidak disajikan dengan wadah botol plastik/kaca tapi dengan wadah dr porselin (sepertinya ingin menyajikan kesan ala hotel). Jadi kita tidak bias ‘boros’ dengan kuahnya (bagi penggemar kuah).
Tekwannya sendiri, ketika saya cicipi kuahnya, nendang banget. Krasa banget gurihnya, tapi saya curiga gurih ini dihasilkan dari bumbu penyedap. Isinya cukup komplet, ada bihun, baso ikan, jamur kuping, dan irisan bengkuang. Sempat tercecer ada kepala udang dan kulit badannya. Entah ini unsur kesengajaan untuk memberi kesan kaldu terbuat dr udang, atau tidak sengaja bagian yg tdk bisa dimakan tersebut katut.
Kesimpulannya, Pempek 26 mendapat 3 bintang dari lima.
Untuk reviewe warung ke4 dan seterusnya akan diulas lebih lanjut di postingan berikutnya (kalau digabung terlalu panjang euy :D )
Tag: Jogja, pempek, Tekwan, man pari 19 ilir, pempek 26, sarikaya, kapal selam
Terkait:
-
Tour de Pempek Van Djokdja pt. two
Selasa, 26 Jan '10 15:02 -
Wedang Gedang
Minggu, 25 Des '11 10:15 -
Bakpia Telo "Joglo"
Minggu, 11 Des '11 22:29
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
mlandhing: Dua Jempol
-
Kristupa Saragih: Nendang Banget
-
Herman Saksono: Dua Jempol
Komentar:
total ada 5 warung pempek yg kami cobai seharian
piye meth.. mbelenger pempek?
Silahkan login untuk memberikan pendapat