Aroma Koffie Fabriek Bandung 1

Jumat, 20 Nov '09 02:35

Kesempurnaan sebuah proses

 

Rasanya saya sangat beruntung saat awal 2007 lalu saya jalan-jalan ke Bandung dan mampir ke Aroma Koffie Fabriek. Bagi penggemar kopi seperti saya, berkunjung ke pabrik kopi ini mungkin kesannya seperti umroh ke tanah suci.

Di tengah kepadatan dan keruwetan kawasan Banceuy, Anda akan menemukan satu 'oasis' di sana, Aroma Koffie Fabriek beralamat di jalan Banceuy no. 51. Memasuki bangunan bergaya Art Deco tersebut, selain disambut harumnya aroma kopi, pengunjung juga disambut display kopi, dan beberapa grinder kopi vintage jaman Belanda.

Aroma Koffie Fabriek dimiliki oleh Widya Pratama, dia mewarisi perusahaan kopi ini dari Tan Houw Sian, ayahnya, yang sudah merintis pabrik ini sejak tahun 1930. Ini berarti tak berselang lama dengan perusahaan kopi Kapal Api, yang dirintis oleh Go Soe Loet pada tahun 1927. Tapi soal cita rasa kopinya, jangan bandingkan kopi Aroma dengan Kapal Api, kopi Aroma jelas berada di kasta yang jauh lebih tinggi dibanding Kapal Api.

Pak Widya tak melandasi usahanya untuk mencari keuntungan semata, dia bekerja dengan hati, kejujuran dan kesabaran, "Kita kan mati nggak bawa harta," ujarnya. Mungkin ketulusan hati itu yang membuat kopi Aroma memiliki energi positif yang dirasakan oleh setiap penikmatnya.

Pak Widya selalu ramah terhadap pelanggannya, kalau ada waktu, dia akan mengajak pelanggannya untuk berkeliling di dalam pabrik, menjelaskan proses pembuatan kopi dari awal hingga akhir. Pengolahan kopi di pabrik ini masih menggunakan mesin pemasak kopi kuno buatan Jerman merek Probat. Dan menggunakan kayu karet untuk memanggang kopi, asap dari kayu karet yang dibakar akan memberikan efek berupa aroma khusus terhadap kopi yang dipanggang.

Kopi didatangkan dari beberapa daerah di Indonesia, kopi yang baru datang dari petani tidak langsung diolah, tapi kopi dijemur terlebih dahulu, lalu dikemas dalam karung goni dan disimpan dalam gudang. Untuk jenis Robusta disimpan selama 5 tahun, sedangkan jenis Arabika selama 8 tahun! Alasannya supaya kadar asam dalam kopi turun, sehingga nyaman saat dikonsumsi dan aman bagi perut. Dulu Pak Widya pernah meminta saya untuk menonjok dua karung goni berisi kopi, yang pertama belum disimpan lama, dan yang kedua sudah disimpan selama 8 tahun. Karung goni yang pertama masih agak gembur, sedangkan yang kedua terasa sangat keras dan padat seolah berisi batu.

Aroma Koffie Fabriek menawarkan tiga jenis kopi, yakni Robusta, Arabika, dan Mokka Arabika yang merupakan kopi blend. Kopi kemasan 250 gram dijual Rp 12.500. Untuk konsumsi rumahan, Pak Widya menyarankan untuk membeli dalam jumlah sedikit saja, jangan terlalu banyak, karena jika disimpan dan dihabiskan terlalu lama akan membuat kopi kehilangan cita rasa dan aromanya. Jika ingin menyimpan kopi dalam jumlah besar, lebih baik kopi disimpan masih dalam wujud biji, bukan bubuk.

Pak Widya juga berbagi sedikit tips untuk membuat secangkir kopi tubruk yang nikmat, usahakan untuk memakai air panas yang baru saja dimasak, suhunya sekitar 90 derajat celcius, bukan air panas dari termos atau dispenser. Lalu diamkan selama 5 menit, baru kemudian tambahkan gula atau susu sesuai selera. Hebatnya, hanya dengan proses sederhana seperti itu, kopi Aroma bisa menghasilkan crema layaknya minuman kopi yang dibuat dengan mesin espresso. Crema adalah busa keemasan yang mengambang di permukaan kopi, di dalamnya terkandung minyak, protein, dan gula.

Kenikmatan sebuah kopi memang membutuhkan kesempurnaan sebuah proses, dan kopi Aroma telah melewati proses itu.


Tag: Bandung, kopi, coffee, Aroma Koffie Fabriek, arabica, robusta, kopi Aroma, kapal api

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

mlandhing 0 0
kopi aroma ini memang legendaris... rugi kalau ke bandung gak belanja sedikit dua dikit kopi mereka... dan ya itu tadi, mau minta yang usia 8 tahunan ah, biar maag aku gak naik... : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat