Sejarah Panjang Si Biji Kopi 4
Minggu, 15 Nov '09 03:57
Namanya KOPI, biji kecil yang jika sudah diolah menjadi minuman akan memberi energi dan membangun mood bagus, menceriakan suasana hati. Konon, jaman dulu kopi adalah minuman para sufi, dan bangsawan Eropa menganggap kopi sebagai klangenan, bagian dari gaya hidup.
Etiopia adalah daerah asal muasal kopi. Di tanah Afrika Timur itu alkisah hiduplah seorang gembala kambing bernama Kaldi. Suatu malam kambing-kambingnya hilang. Keesokan paginya ia menemukan kambing-kambing itu terlihat gembira, bergerak lincah di dekat pohon berdaun gelap berbuah merah. Penasaran, Kaldi ikut-ikutan mengunyah buah itu. Segera ia merasa lebih berenergi. la pun menduga perilaku kambingnya yang aneh disebabkan biji yang kemudian dikenal sebagai kopi itu. Sesaat kemudian datanglah seorang imam dalam keadaan mengantuk menuju perjalanan menunaikan salat subuh di mesjid terdekat. la melihat Kaldi dan kambing-kambingnya di sekitar pohon kopi. Melihat fenomena itu, sang imam yang cendekia dan berpola pikir sistematis itu lantas melakukan berbagai eksperimen terhadap buah pohon tersebut, termasuk memanggang dan merebus bijinya. Hasil dari eksperimen itu lahirlah minuman kopi yang menyegarkan dan memberi energi. Segera saja minuman itu menjadi favorit untuk rnengobati kantuk sebelum sembahyang. Kebiasaan ini menyebar dari mesjid ke mesjid sampai akhirnya tersebar ke seluruh dunia.
Bisa Dihukum Mati Gara-Gara Kopi
Awalnya orang-orang Eropa mengira kopi berasal dari Yaman, negara di ujung selatan Semenanjung Arab. Namun, sesungguhnya bukti botanis mengungkapkan bahwa Coffea Arabica, spesies kopi terbaik di dunia, berasal dari dataran tinggi Etiopia. Pepohonan kopi arabica itu sampai kini masih tumbuh liar di sana, di antara pepohonan di hutan lebat.
Tidak dapat dipastikan bagaimana akhirnya biji kopi arabica bisa menyeberangi Laut Merah menuju Yaman. Mungkin biji kopi itu dibawa lewat hubungan dagang yang terjadi kurang lebih 800 tahun SM. Meski begitu, para sejarawan tidak terlalu yakin karena tidak ada bukti yang cukup kuat. Invasi orang Etiopia ke semenanjung Arab bagian selatan pada tahun 525 diduga kuat adalah pembawa biji kopi itu.
Pendudukan Etiopia di Yaman yang bertahan selama 50 tahun memberi cukup waktu menularnya kebiasaan minum kopi di semenanjung Arab. Biji buah berwarna merah itu segera menjadi bagian dari gaya hidup orang Yaman, termasuk budi daya tanamannya pada abad ke-6.
Penikmat kopi pertama di semenanjung Arab semula sangat terbatas. Ketika itu sebelum dijadikan minuman sedap, kopi adalah obat. Setelah itu baru dinikmati sebagai minuman para sufi yang membutuhkannya, supaya tidak mengantuk saat bermeditasi dan beribadah. Kemudian penikmatnya melebar ke jalan-jalan sampai akhirnya berdirilah warung-warung kopi, tempat menikmati kopi di Kairo dan Mekkah.
Dari semenanjung Arab kopi dibawa ke India oleh Baba Budan, peziarah Muslim dari India. Pada zaman itu haram hukumnya dan bisa dihukum mati bila membawa biji kopi yang tidak direbus atau disangrai keluar dari semenanjung Arab. Tujuannya agar biji kopi tidak bisa ditanam di luar daerah itu.
Sekitar tahun 1650 Budan nekat membawa 7 biji kopi di perutnya. Segera setelah sampai di rumahnya di Chickmaglur, India Selatan, ia menanam biji kopi itu dan berkembang dengan subur.
William Ukers dalam ensiklopedinya berjudul All About Coffee yang ditulis pada tahun 1928 mencatat, keturunan biji kopi pertama itu masih berkembang biak dengan subur di hutan Chickmaglur pada masa itu. Sayangnya, sekarang keturunan pohon kopi tidak tumbuh lagi di hutan itu.
Perjalanan ke Eropa
Pedagang dari Perancis, Belanda, dan Portugis di zaman penjelajahan samudera kemudian mendengar dan tertarik memperdagangkan kopi. Namun, biji kopi tidak tahan tumbuh di iklim dingin Eropa. Tanaman kopi hanya bisa tumbuh di dataran tinggi beriklim tropis. Pedagang Belanda lalu membawa biji kopi keturunan Baba Budan ke Sri Lanka dan tanah Jawa. Dari dua koloni ini Belanda memperoleh keuntungan besar di awal abad ke-18.
Namun, ada pula yang menyebut para pedagang VOC jauh lebih dahulu nekat dan cerdik dibanding Baba Budan. Seorang pedagang VOC, Pieter van der Broeke, di tahun 1616 nekat menyelundupkan biji kopi dari pelabuhan Mocha, Yaman ke Amsterdam. Lalu biji kopi itu ditanam di kebun botani Amsterdam. Pohon yang ditanam di Amsterdam ini yang kelak dikirimkan sebagai hadiah untuk Raja Perancis, Louis XIV.
Di abad itu kopi menjadi klangenan para bangsawan dan orang-orang berpunya yang sanggup membeli biji eksotis dari negeri Timur itu. Louis XIV raja Perancis yang terkenal dengan kemewahannya itu, mengimpor pohon kopi dari pelabuhan Mocha, Yaman.
Dari situ pohon itu dibawa ke Jawa kemudian menyeberangi lautan menuju negeri Belanda, lalu dibawa melalui darat ke Istana Versailles yang mewah. Dikisahkan Louis XIV sendiri yang bercakap-cakap dengan pohon mahal itu sebelum akhirnya bosan dan menyuruh ahli tanamannya untuk merawat pohon tersebut. Rumah kaca pertama di Eropa kemudian dibangun untuk pohon kesayangan bangsawan ini.
Kembali ke Etiopia
Keturunan dari pohon kesayangan Raja Louis itu mencapai Martinique, Kepulauan Karibia di Amerika sekitar tahun 1720. Itu berkat jasa Chevalier Gabriel Mathieu de Clieu yang mengikuti jejak Baba Budan dari India. Awalnya dia kesulitan memperoleh pohon kopi rumah kaca itu dari pemerintah setempat, tetapi ia tidak kekurangan akal. Pohon itu ia curi dan dibawa menyeberangi lautan.
Perjalanan laut ini menempuh segala risiko, termasuk harus menghadapi serangan bajak laut dan hampir tenggelam ditelan badai. Ketika jatah air di kapal berkurang de Clieu rela membagi dua jatahnya untuk kelangsungan hidup pohon kopinya di dunia baru.
Pengorbanannya tidak sia-sia. Akhimya keturunan pohon kopi bangsawan Eropa itu tumbuh dengan baik di Martinique. Sekitar 50 tahun kemudian pohon itu berkembang menjadi 18.680 pohon dan mulai menyebar ke Haiti, Meksiko, dan Kepulauan Karibia.
Keturunan pohon kopi itu juga menyebar ke kepulauan di Samudera India bernama Bourbon. Uniknya, di kepulauan ini terjadi mutasi pada tanaman kopi itu dan menghasilkan varietas baru, bourbon. Ini adalah varian Coffea Arabica berpola berbeda dengan biji lebih kecil.
Kopi Santos dari Brasil yang terkenal dan kopi Oaxaca dari Meksiko adalah keturunan dari varietas bourbon. Pohon-pohon bourbon menjadi kopi terbaik Amerika Latin. Dari Brasil, biji kopi lalu diperkenalkan di Kenya, sekarang disebut Tanzania yang hanya berjarak beberapa ratus kilometer di sebelah selatan daerah asal kopi, Etiopia.
Jadi bisa Anda bayangkan perjalanan keliling dunia si emas hitam ini di abad lampau. Dari Etiopia kopi melanglang ke Mocha. Lantas diboyong ke tanah Jawa dan dikapalkan ke negeri Belanda. Lalu kopi dibawa lewat jalan darat ke Paris, dan diangkut ke Kepulauan Karibia. Dari situ, kopi dikirim ke Brasil dan Meksiko. Tahun 1893 kopi melengkapi perjalanannya keliling dunia setelah melawat ke Tanzania.
Artikel diramu dari berbagai sumber
Terkait:
-
Peluncuran Quintino's Coffee di Solo
Sabtu, 30 Jan '10 03:56 -
Membuat Espresso Dengan Moka Pot
Kamis, 24 Des '09 02:18 -
Aroma Koffie Fabriek Bandung
Jumat, 20 Nov '09 02:35

Komentar:
mungkin karena orang Eropa merasa bahwa kopi itu benda yg susah didapat sehingga untuk mengolahnya, mereka mengolah dengan sangat baik. bahkan menjual dengan harga mahal.
apa karena di Indonesia ini saking banyaknya dan mudah didapat sehingga kita "menyepelekan" kopi (juga coklat) sehingga mengolahnya seadanya?
ah, semoga ini hanya prasangka buruk saya saja..
*nyruput kopi starbak*
Silahkan login untuk memberikan pendapat