Efek Samping Lebaran. 3
Minggu, 27 Sep '09 19:26
Hai hai.. Lebaran sudah lewat. Tapi ngga ada salahnya dong walau terlambat, mengucapkan selamat Idul Fitri bagi yang merayakan... mohon maaf lahir batin pada semuanya...
***
Bicara soal lebaran, kenapa ya, kalau lebaran tiba-tiba berlimpah makanan? Aneka macam pula. Berbagai macam kue kering yang awet dan praktis menyajikannya. Makan besar untuk disantap setelah sholat Ied. Umumnya sih ketupat opor. Tapi di beberapa rumah dalam keluarga besar kami, tiap rumah punya makanan ciri khas sendiri. Ada yang opor bebek. Ada yang pecel daun adas plus gendar. Ada juga yang pecel bongko dan rempeyek. Belum lagi jajanan tradisional. Lemper, jentik manis, sengkulun, jadah, wajik...
Berkumpul dengan sanak saudara, yang ada isinya gembira dan bahagia... aja. Dan sadar ngga sih, kita jadi seperti ngga punya 'kenyang'. Ngiderin perut ke sana ke mari. Bagaimana tidak tergoda kalau setiap rumah punya menu istimewa? Kadang kita sudah benar-benar kenyang dan berusaha menolak secara halus. Tapi sang tuan rumah berkata, "Yah... sudah dimasakin kok ngga dimakan. Tadi di tempat lain mau makan sampai kekenyangan, akhirnya sampai sini jadi ga doyan makan lagi deh...". Ugh... ga enak sama yang punya rumah, akhirnya makan juga...
Mungkin tidak semua begitu. Tapi beneran deh, kalau aku perhatikan isi status fesbuk, rata-rata 'mengeluhkan' banyaknya makanan yang disantap. Juga dari pengamatan langsung di lapangan, memang begitu lah keadaannya. Aku sendiri dari sana-nya memang bukan penyuka makan. Dan aku bisa menolak tawaran makan tanpa merasa tidak enak sama yang nawarin makan. Alhamdulillah aku makan sedikit lebih banyak dari biasanya, tapi bukan sampai kebanyakan.
Ada lagi yang bikin acara keluarga, pergi rekreasi dan tentu tidak lupa: makan bersama. Segala apa dipesan, dimakan, dan sambil ngobrol tidak terasa semuanya habis juga. Masih ada acara halal bi halal dan reunian. Yang pasti di dalamnya mengandung acara makan.
Halo...
Bagaimana kabar perut Anda yang setelah diajak sebulan berpuasa, tiba-tiba disuruh bekerja keras menggiling semua hidangan lebaran itu?
Dan ini adalah hasil pengamatan langsung di lapangan, dan status fesbuk juga, di hari-hari setelah makan-makan lebaran. Rata-rata mengeluhkan perut yang error. Dari yang sekedar kembung sampai yang (maaf) diare. Bahkan ada nih... yang sampai H+7 belum sembuh juga...
Terus terang, sampai sekarang aku masih heran. Kenapa puasa dan lebaran menjadi ajang lomba menghidangkan makanan? Iya lho, puasa juga. Flashback dikit ya. Selama bulan puasa, tabloid wanita isinya resep-resep untuk sahur dan buka, dari makanan pembuka, utama, sampai penutupnya. Di TV juga ada acara khusus menyiapkan menu buka. Kenapa selama puasa kita tidak makan seperti hari-hari biasa saja? Kalau lebaran jelas. Jauh-jauh hari orang sudah sibuk bikin dan pesan aneka macam makanan. Dan pada hari H makanan (dan kegiatan makan) seperti serba berlebihan...
Sepertinya, memang sulit ya untuk makan wajar saja kalo di hadapan kita banyak makanan. Dan banyak pula yang nemenin makan. Aku sendiri juga jadi lebih doyan makan kok selama lebaran. Cuma ya... sedoyan-doyannya aku kan ya segitu ajah ;)
Mudah-mudahan lambung-lambung kita baik-baik saja. Bagi yang sempat bermasalah, semoga lekas kembali normal. Dan kembali mengingatkan diri saya sendiri dan Anda semua... too much of something is never good...
Tag: lebaran, kebiasaan makan
Terkait:
-
Opor dan Teman-temannya
Minggu, 28 Agu '11 10:10 -
Resep-resep Idul Fitri
Kamis, 9 Sep '10 10:56 -
Kue Kering Melinjo Special
Selasa, 17 Agu '10 09:40

Komentar:
harusnya RENYAH GURIH!!!!
maaf... maaf...
jadi, bagaimana kabar lambung budhe?
Silahkan login untuk memberikan pendapat