Ketika Makan (an) Tak Lagi Sekedar Selera 5
Kamis, 10 Sep '09 22:15
Malam tadi (9/9), di Sport Hall Universitas Jember (Unej), digelar launching Majalah Tegalboto Edisi XIV. Majalah Tegalboto diterbitkan oleh Unit Pers Kegiatan Mahasiswa (UPKM) Tegalboto Unej.
Berbeda dari majalah terbitan Pers Mahasiswa pada umumnya, Majalah Tegalboto kali ini mengajak kita berdiskusi tentang makanan, tapi bukan ngerumpi tentang makanan. Seperti yang tertera dalam pengantar redaksi, "majalah ini bukanlah buku tentang cara masak yang baik atau buku resep makanan."
Majalah Tegalboto bertajuk "Poskuliner" coba mengajak kita melihat makanan dari kaca mata paradigmatik yang berbeda.
Arman Dhani Bustomi, selaku Pemimpin Redaksi mengakui bahwa sejak Edisi IX, Majalah Tegalboto sudah tidak lagi mengangkat tema-tema besar, atau lebih tepat, tema-tema yang dianggap besar. "Sejak Edisi IX, kami lebih konsen pada tema cultural studies dan tidak lagi mengangat tema-tema besar seperti politik atau gerakan, karena tidak ingin memperkeruh suasana," ungkap Dhani. "Tema-tema besar cukup diangkat oleh kawan-kawan dari kota besar seperi Jogja, Semarang, atau Jakarta saja," tambah Dhani pada sesi diskusi.
Hadir dalam acara tersebut, Pembantu Rektor III Unej, Drs. Andang Subaharianto, M Hum dan Drs. Moch. Ilham Zoebarazi, M.si, Pembina UKPKM Tegalboto, yang juga merupakan dosen Fakultas Sastra Unej. Selain itu, tak kurang dari 50 orang hadir dalam acara. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa -delegasi dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di lingkungan Unej.
Baik Andang Subaharianto maupun Ilham Zoebarazi menyambut baik terbitnya Majalah Tegalboto.
Dalam sambutannya, Andang Subaharianto menyinggung pula tentang relasi antara makanan dan perkembangan kapitalisme. Ia menyatakan bahwa makanan bukan lagi sesuatu yang sederhana. "Kapitalisme sudah jauh melompat-melampaui logika-logika produksi, dan sudah masuk ke ranah konsumsi, inilah yang tidak dipikirkan Marx," ungkap lelaki paruh baya tersebut. Dia menambahkan, "Sampai sekarang kita tidak menemukan kritik terhadap konsumsi, yang setajam kritik Marx terhadap produksi pada masanya."
Sementara itu Ilham Zoebarazi dalam sambutannya lebih menekankan pada persoalan makanan, yang sudah menjadi bagian dari penjajahan. Dia menganggap makanan adalah relasi antara penjajah dan yang dijajah, antara yang mengkoloni dan yang dikoloni. "Ketika membuka Majalah Tegalboto, pikiran saya dibawa menuju buku-buku postkolonial yang pernah saya baca, semacam Edward Said dan Spivak." Ungkapnya seraya menerawang.
Inu Basidjanardana, eks PU (Pemimpin Umum) Tegalboto, yang juga hadir malam itu mengakui ada proses "pergulatan" panjang di dapur redaksi, bahkan beberapa kali berganti tema sebelum Tegalboto akhirnya mengangkat tema makanan. Ia coba meyakinkan bahwa makanan bukan sesuatu yang sepele dan remeh-temeh seperti anggapan kebanyakan orang.
Malam tambah larut. Acara ditutup dengan pembacaan puisi, doorprize, dan tentu saja, doa.
Di luar ruangan Sport Hall Unej malam tadi, dunia juga sedang bergerak -bersama tumpukan makanan- yang tanpa sadar (barangkali) sedang menjajah selera dan pikiran kita. Karena "Makan (Tak Lagi) Sekedar Selera," tulis awak Tegalboto "Dari Dapur Redaksi."
Tag: makanan, selera, Marx, Kapitalisme, Postkolonialisme
Terkait:
-
Rawon Nguling
Sabtu, 20 Mar '10 11:01 -
"Cipurli", Sebuah Anomali ?
Rabu, 9 Sep '09 14:09 -
Jadi, Kapan Kita Makan Coto Lagi?
Senin, 7 Sep '09 12:05
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
perempuan api: Dua Jempol
-
didinu: Renyah Gurih
Komentar:
btw, saat ini semakin banyak makanan global yang kita kenal, tapi justri hidangan nenek moyang terabaikan... semoga semakin banyak yang peduli dengan senjang ini.
Ada satu hal lagi yang juga tak kalah menarik: menu yang dihidangkan saat launching! Ubi dan Kedelai rebus Vs Donat. Seolah kawan2 dari Tegalboto menghidangkan menu sambil melakukan konfrontasi ideologis antara makanan lokal dan global. Jadi kelihatan sekali, ubi dan kedelai rebus nyaris tak tersentuh, sedangkan donatnya disikat habis!
"revolusi" besar, dari gerakan ke makanan. hehehe. tapi boleh juga, karena yang dibahas bukan resep dan cara memasak tapi sejarahnya, kaitannya dengan marx...ckckck....
Silahkan login untuk memberikan pendapat