Swasembada Jagung, Jagung Disambung 0

Rabu, 9 Sep '09 13:58

Mlandhing melihat bahwa jagung memiliki potensi pengembangan yang luar biasa banyak di dunia kuliner. Turunan produknya dari tepung maizena sampai cornchip, dari minyak jagung sampai gula jagung, Banyak sekali. Itu berarti kita butuh banyak jagung agar konsumsi jagung terjaga.

Konon, Indonesia Sudah Swasembada Jagung alias sudah bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri sendiri. Indikatornya sih boleh diperdebatkan lah. Tapi bukan itu yang mau Mlandhing sampaikan di sini.

Ini pengalaman ketika Mlandhing membuat iklan layanan masyarakat untuk Departemen Pertanian, terkait swasembada jagung tadi. Pengalaman ini menjadi menarik, karena ternyata untuk membuat rekaman audio visual jagung yang siap panen itu tidak semudah yang dibayangkan. Maklum, waktu syuting dilakukan, masa panen jagung telah lewat. Yang tersisa di lokasi adalah batang jagung yang telah dipanen jagungnya. Mau memaksa nyari lokasi yang lain kok tidak asik, secara di lokasi tersebut kebutuhan ideal untuk syuting tercukupi. (Tentu minus jagung siap panen itu tadi... hiks...). Padahal tujuan iklan ini jelas, musti bisa menunjukkan swasembada jagung secara visual, itu berarti termasuk memperlihatkan panen raya jagung-nya.

Akhirnya, setelah melalui diskusi cukup panjang, si sutradara, mas Agung Dewa dan Cak Roes yang menggawangi artistik menempuh cara sederhana, yaitu: menyambung tongkol jagung ke batang keringnya. Rencana ini sepertinya cukup jitu. Menyelesaikan masalah? Ternyata tidak.

Karena ternyata batang-batang jagung yang tersedia terletak di lokasi yang sulit dijangkau, maka diputuskan untuk memboyong 200 batang jagung kering ke lokasi sawah terdekat. Untuk yang terakhir ini ada sedikit kendala lagi, yaitu jika batang jagung ditanam lagi, maka tinggi pohonnya tak sesuai realita. Sementara kalau tetap diambil gambarnya di lokasi, jelas tidak ekonomis, makan waktu dan energi yang tidak sedikit. Hm, dilematis.

Jadilah akal-akalan dilakukan dua kali, yaitu batang jagung disambung dan diikat ke buluh bambu di bagian bawah. Dengan demikian tingginya dapat diatur sesuai kebutuhan. Sedangkan untuk tongkol jagung kembali 'direkatkan' diketiak daun dengan bantuan kawat. 

Jadilah.

Iklan tentang swasembada jagung pun sukses diproduksi, disajikan dengan sambung menyambung jagung-jagung. Aih, ada-ada saja.


Tag: syuting, jagung

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat