Jadi, Kapan Kita Makan Coto Lagi? 12

Senin, 7 Sep '09 12:05

 

Pertanyaan diatas kerap kali dilontarkan kawan-kawan saya asal Makassar, baik dari sesama alumni Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin atau komunitas blogger Makassar AngingMammiri yang kebetulan berdomisili di Jakarta. Dan begitulah, setiap kali pertanyaan itu terlontar mendadak terbayang dihadapan saya semangkuk Coto Makassar dengan kuah kecoklatan yang eksotik dengan taburan bawang merah goreng diatasnya, beraroma khas menggoda selera. Disamping mangkuk coto itu "terkapar pasrah" beberapa ketupat diatas piring yang siap disantap sambil "nyoto". Tanpa terasa hatipun dibikin "termehek-mehek" dibuatnya. Tampaknya, saya memang mengidap ketagihan tahap akut pada kuliner khas Makassar ini .

Seperti yang ditulis sahabat saya Ipul Daeng Gassing di Mycityblogging Makassar, tidak ada catatan resmi sejak kapan Coto Makassar ditemukan serta siapa yang pertama kali menemukan serta memperkenalkannya. Saat ini orang hanya tahu kalau Coto adalah hidangan khas Makassar. Sebagian besar pedagang Coto adalah warga Sul-Sel yang berasal dari suku Makassar, hingga muncul dugaan kalau Coto memang adalah makanan khas suku Makassar.

Bahan dasar coto adalah jeroan sapi, biasanya berisi hati, limpah, jantung, usus dan daging. Di daerah Jeneponto, daging sapi digantikan dengan daging kuda, bahkan di beberapa tempat ada juga Coto dari daging ayam, walaupun sangat jarang. Bahan-bahan jeroan dan daging tersebut direbus terlebih dahulu hingga lunak. Selanjutnya saat akan disajikan, bahan-bahan tersebut dicampur dengan kuah yang dimasak di tempat terpisah. Daging dan jeroan yang sudah direbus biasanya masih menggumpal dalam jumlah yang besar sebelum kemudian dipotong kecil-kecil sesuai pesanan.

Kuah Coto umumnya berwarna coklat tua, namun ada juga yang berwarna putih. Kuahnya adalah campuran dari rempah-rempah semacam sereh, lengkuas, kemiri, bawang, dll yang kemudian ditambah gilingan kacang tanah yang sudah digoreng. Bahan-bahan kuah ini kemudian dimasak di dalam panci yang terbuat dari tanah liat. Panci dari bahan tanah liat ini dipercaya dapat menambah kekuatan rasa dari kuah Coto. Kuah Coto memegang peranan penting dalam menentukan enak tidaknya sebuah Coto Makassar. Tidak heran bila beberapa penjual Coto ternama memiliki rahasia khusus dalam meracik kuah tersebut.
Pasangan sejati dari Coto adalah ketupat. Tak lengkap rasanya makan Coto kalau tanpa ketupat, dan rasanya akan berbeda bila ketupat tersebut diganti dengan nasi atau lontong, walaupun sama-sama dari beras. Ketupat biasanya dibungkus dengan janur atau daun kelapa, tapi ada pula yang membungkusnya dengan daun pandan. Khusus untuk yang dibungkus dengan daun pandan, aromanya menjadi khas dan bisa membangkitkan selera. Saat ini penggunaan daun pandan sebagai pembungkus ketupat sudah sangat berkurang karena jenis tumbuhan ini juga sudah semakin sedikit jumlahnya.

Sejak masih SMP, saya memang penggemar Coto Makassar. "Kegilaan" menyantap hidangan khas ini semakin menjadi ketika menjadi mahasiswa. Biasanya, bila selesai begadang di kampus, maka sasaran utamanya adalah warung coto makassar yang tersebar di beberapa tempat di kampus Universitas Hasanuddin. Seusai menyantap coto, badan terasa segar dan fit kembali menjalani aktifitas.

Favorit saya adalah coto daging (artinya tidak ada campuran usus, limpa, jantung atau hati). Biasanya sang penjual, secara fleksibel memberikan opsi pada pembeli mau daging saja, jantung saja, hati saja atau campur semua. Sungguh sangat "demokratis". Dengan "kedashyatan" kuahnya yang fenomenal terkadang tanpa sadar, kuah cotonya yang habis duluan serta beberapa ketupat. Seingat saya, dulu, untuk nambah kuahnya saja tidak ada tambahan biaya. Tak heran, walaupun hanya menyantap coto semangkuk, bisa jadi ketupatnya lebih dari lima.

Saya masih ingat betul, waktu mahasiswa dulu, dengan keringat bercucuran didahi dan wajah "ditabah-tabahkan" saya berteriak lantang ke sang penjual coto : "Paakk, tambah kuahnya!". Dan sang penjual dengan langkah tergopoh-gopoh mendatangi saya, mengambil mangkuk coto dan mengisinya kembali dengan kuah. Ketika menyodorkannya kembali, tatapan sang penjual begitu memilukan seakan-akan berkata: kasihan-banget-adik-mahasiswa-ini-duitnya-bokek-buat-nambah-satu-mangkuk-coto-lagi-dan-hanya-minta-tambah-kuahnya-saja  . Kalau ditanya bagaimana dengan sekarang? Hmmm...gengsi dong nambah kuahnya lagi! hehehe.

Kawan saya sampai geleng-geleng kepala melihat sepuluh bungkus ketupat yang saya santap berada di samping mangkuk coto yang sudah kosong melompong.  Tak jarang, kami-diantara para "coto mania" bertaruh siapa yang paling banyak menyantap ketupat-dengan kata kunci tersendiri. Bila 1:5 berarti 1 coto 5 ketupat, 1 : 10 berarti 1 coto, 10 ketupat. Dan, guess what? Terkadang justru saya yang bisa memenangkan "pertandingan" itu. Mengenang kembali peristiwa tersebut mendadak saya jadi tersenyum getir lalu mengelus perut yang kian membuncit ini dan tak heran sampai dapat julukan "Daeng Battala" alias "Abang Berat" dari teman-teman.

Menyantap Coto Makassar bagi saya juga merupakan obat pilek paling mujarab. Bagaimana tidak? Dengan racikan bumbunya yang menggelitik lidah menjadi obat manjur untuk mengusir flu atau pilek. Biasanya, mengawali "terapi" ini saya menambahkan sambal yang lumayan banyak dan percaya atau tidak, meski sudah ber-"hash-hush" kepedasan dengan keringat bercucuran, pilek pun pergi menjauh.

Saya bersyukur, saat ini, tak jauh dari tempat kerja saya di Cilandak Commercial Estate terdapat warung Coto Daeng Memang di Jalan Ampera Raya (seberang SMU Sumbangsih) . Paling tidak seminggu dua kali saya akan "parkir" disana.  Cukup hanya 5 menit dicapai dengan naik angkot no.36 dari pintu gerbang Cilandak Commercial Estate.

Warung coto ini sudah sangat terkenal, bahkan sudah membuat blog sendiri di Multiply. Tidak hanya Coto, warung ini juga menyediakan hiangan khas Makassar lainnya seperti Sop Konro, Sop Saudara, Es Pallubutung, Es Pisang Ijo, dan lain-lain. Tempat tersebut kerap menjadi arena kopdar dan bernostalgia bersama kawan-kawan asal Makassar.

Saat ini, memang saya berusaha mengurangi porsi makan coto makassar. Sebab karena bahan dasarnya dari jeroan sapi beserta dagingnya, coto tidak dianjurkan bagi penderita tekanan darah tinggi, kolesterol, asam urat dan penyakit jantung. Apalagi bagi seseorang yang tengah menjalani program diet. Tapi sesekali tidak apalah. Pokoknya yang penting dengan porsi "terukur".

Jadi, kapan kita "Nyoto" lagi?

 

 


Tag: makanan, coto, makassar

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

ririsatria 0 0
Daeng, saya ingat waktu pertama kali makan coto Makassar dulu, agak kaget, kok pake ketupat? karena kalo di Padang ketupat itu untuk makan sate : ))
kucingsapi 0 0
wohh syukurlah bisa pesan coto daging.. terus terang saya gak suka jeroan.. bukannya sok sehat tapi emang gak doyan... lagi pula yang nikmat itu kan kuahnya hasil rebusan dari daging, jeroan dan bumbu2 : )) dan kuahnya itu yang paling enak dan paling sumber penyakit : p

belum pernah makan jadi ingin.. ajakin saya dong....

eh iya biasanya harga seporsi coto itu berapa ya? : D
mlandhing 0 0
hm, coto makassar emang oye... cuma, menurutku kok setelah coto 'mengembara' ke lain kota, selalu saja rasanya berbeda ya?

lidahku yang salah, atau sekedar suasana yang berbeda, atau memang rasanya beralih rupa?
Pemuja Tahu 0 0
Coto makasar yang deket sumbangsih itu ya?

wah emang number one deh disitu, udah nerasain sejak SMA apalagi es palubutung sama es pisang ijonya... MANTABS

deket kantornya ya? pantesan mas badannya gede makan coto mlulu ya .. : D

salam dari orang cinere... : D : D : D

luvie 0 0
kalo pada mau nyoto ke ampera, ikut doooooooong.. : ))
Tukang Odong-Odong 0 0
ririsatria: Bang Riri, di Makassar justru yang jadi "teman" makan coto adalah ketupat. Biasanya sudah dibelah secara melintang dengan pisau dan tinggal sang penyantap membelah sendiri lalu mengambil potongan ketupat lalu mencelupkannya ke kuah coto lalu membawanya ke mulut. Wah..rasanya maknyus. Jadi laper nih padahal baru imsak..hehehe

kucingsapi: Boleh nanti kapan2 deh. Kalo tidak salah seporsi Rp 13,000 belum termasuk ketupat (harga Rp 1000/buah)

mlandhing: Wah, gak tau juga ya mbak. Tapi memang faktanya begitu, makan coto di Jakarta rasanya relatif beda dengan yang di Makassar. Barangkali dimodifikasi sesuai kondisi daerah ybs : D

Pemuja Tahu: Iya betul bung Donny...hahaha...bisa aja nih. Badan montok menggemaskan itu memang sudah dari sononya. Kapan2 mampir makan coto disana yuk... : )

luvie: Boleeh....ayoooo.....ehh...lagi puasa ya? : ))
desty 0 0
kuahnya itu ga nahan..enyak..enyak..
eh,daeng udah pernah nyoba kuah coto dijadikan kuah kapurung (makanan dr sagu itu)? wuih...mantap : D
kucingsapi 0 0
Pemuja Tahu: eh cinere sebelah mana nih??? tetanggaan dong kita : ))
mlandhing 0 0
kucingsapi kalau tetanggaan dengan @Pemuja Tahu, janjian pisan wisata kulinernya sana... hehehe
La 0 0
belum pernah makan satu kali pun. kalo soto sering : D
mlandhing 0 0
enak kok La... tapi yang di makassar lho ya... kalau yang di jakarta, aku blm nemu yang oke.
perempuan api 0 0
huaaaaa....lapeeerrrr. dah brapa tahun ya, ga makan coto makassar. padahal dulu masuk jadwal mingguan : D
banyakin jeruk nipis plus sambelnya....hmmmm...mantap. biasanya saya malah ga makan isinya (dagingnya). sayangnya ga bisa mesen kuahnya doang : )) : )) bisa2 ditanyain: mau makan apa minum, mba?

Silahkan login untuk memberikan pendapat