Emang Nggak Bisa Ya, Kan Mudah? 2
Senin, 31 Agu '09 13:50
Kemarin, Mlandhing ngabuburit dengan si bontot ke toko buku Gramedia. Maklum, kami berdua, ibu dan anak ini sama-sama hobi baca. Interest-nya pun mirip-mirip lah, meski harus diakui bontot justru punya ketertarikan yang lebih luas.
Dasar Mlandhing, bumbu dan makanan sudah terlanjur mendarah daging. Langsung deh seksi kuliner jadi tujuan pertama cuci mata. Baca sana-sini. Banyak sekali buku-buku kuliner; dari yang sederhana sampai yang tampilannya lux, dari yang menawarkan menu-menu sejenis hingga yang heterogen. Foto dan gambar yang digunakan pun menggugah selera.
Dari jauh Mlandhing melihat si bontot ikut buka-buka buku kuliner ini. Senanglah hati ini. Bontotku yang perempuan itu punya ketertarikan di dapur meski tak sedalam ibunya. Apapun, gender di negeri ini kan 'mewajibkan' perempuan mahir memasak. Jadi, menemukan dia hepi di dapur tentu sebuah kelegaan. Tiba-tiba kulihat dia menunjukkan sebuah buku.
"Apa dhik?"
"Ini lho, mosok isinya cuma bikin sayur sop, sayur asem, sayur bayem. Emang orang-orang nggak bisa bikin ya, kan gampang?"
Sebuah pertanyaan, dari anak berusia 12 tahun.
Hm, pertanyaan yang menggelitik. Iya juga ya. Mosok untuk masakan yang begitu sederhana semacam itu perlu juga dibuat bukunya. Bukankah seharusnya ada transfer knowledge dari ibu ke anak, atau dari satu saudara perempuan ke perempuan lainnya untuk sekedar ilmu yang sederhana itu?
Dalam perjalanan pulang, pertanyaan bontot masih memenuhi benak Mlandhing. Apa yang salah dengan transfer kemahiran di dapur ini? Dan, lantas, Mlandhing pun mencoba menganalisa.
Saat ini, khususnya di kota besar, semakin banyak saja perempuan jauh dari dapur. Ibu terlalu sibuk sehingga lupa mengajak anak-anak belajar masak. Catat, anak-anak di sini tak harus hanya anak perempuan saja, anak laki-laki juga kayaknya boleh belajar memasak.
Berbagai kemudahan mendapatkan hidangan cepat saji juga menumbuhkan rasa malas 'direpoti'. Belum lagi kemungkinan menemukan dapur berantakan yang berkonsekuensi pada keharusan bersih-bersih. Asli repot. Mungkin tidak menarik.
Tapi, apa lantas anak-anak kita biarkan 'bego' urusan masak? Bukankah itu sebenarnya juga bermanfaat bagi anak kita sendiri nantinya? Toh, tidak setiap saat dia gampang menemukan warung jajan. Belum tentu dia hidup di kota besar yang menyajikan apa saja. Dan, apa kita sebagai orang tua tidak kepikiran untuk membekali pengetahuan sederhana sekedar untuk memasak yang mudah dan murah? Kan belum tentu dia nanti melimpah ruah?
Lhah, kok malah kepala Mlandhing yang jadi full pertanyaan ya? Tapi, apapun, semua orang punya alasannya sendiri bukan?
Jadi, biarlah Mlandhing tetap mengajak dan mengajari bontot memasak, atau setidaknya tidak alergi dengan dapur. Kadang dia memang bantu-bantu kalau pas Mlandhing asik masak. Tapi jangan salah, dapur sebenarnya bisa berarti banyak buat hubungan orangtua dan anak. Bontot bahkan kebanyakan 'ngrepoti' dengan pertanyaan ini itu seputar hal lain, curhat, atau sekedar ngomentarin teman-temannya di sekolah. Itu semua dilakukan di dapur. Dan, dapur akan selalu menjadi tempat kami share apa saja. Di situ, kami merasa menemukan cara untuk bicara antara perempuan satu dengan perempuan lainnya.
Catatan: gambar diambil dari sini
Tag: Dapur
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
La: Manis Deh
-
ndr: Nendang Banget
-
Herman Saksono: Nendang Banget
-
yusro: Nendang Banget

Komentar:
padhal untuk masak (dulu) aku juga baca buku2 itu.... salam buat bontot ya budhe..
Silahkan login untuk memberikan pendapat